Sabtu, 06 Oktober 2012

Jika Keluarga Kita Terlanjur Berdosa

Oleh : Yuyu Wahyudin Bani Atmadja
Ketika Nabi ibrohim melihat  Bapaknya berenang-renang di api neraka, maka ia memohon-mohon pada Alloh sambil menggugat,: Ya Alloh katanya engkau tidak akan menyusahkan hamba, tapi ini hamba harus menyaksikan orang tua yang disiksa di neraka..”. Demikian perasaan yang sangat kecewa dari seorang  Nabi yang mugkin menurut perasaan manusia itu tidak pantas, tidak mungkin, tidak adil. Lalu bagaimana dengan kita yang bukan seorang  Nabi,  jika menyaksikan hal  yang menurut kita tidak mugnkin, tidak percaya kalau itu harus terjadi pada orang yang kita cintai, kita banggakan.
Hirup pikuk kehidupan, perubahan jaman yang cepat berdampak pada perubahan moral yang cepat sehingga banyak hal yang  kita anggap tidak mungkin terjadi dapat saja menjadi mugnkin. Saat ini perkembangan jaman dan perubahan perilaku manusia  sangat cepat sehingga sebagaimana diceritrakan dalam sebuah hadist,” pagi iman sore menjadi kafir “ saking terasa cepatnya perubahan diri manusia. Kita hidup tidak lagi selalu bersama dengan lingkungan yang konstan kondusif untuk menjaga satu sikap dan karakter tertentu. Yang pada awalnya dianggap aneh dan menghebohkan sekarang dianggap kejadian biasa, semisal pergaulan bebas, perselingkuhan, menikmati hiburan maksiat, nafza, hamil di luar nikah dan sebagainya.
Berbagai predisposisi untuk terjadinya hal itu, dimulai dari hubungan yang kurang harmonis dalam keluarga, kehidupan yang monoton, komunikasi yang tidak sehat dalam keluarga, kurangnya rekreasi keluarga, kurangnya perasaan diakui dalam keluarga, stress social, tres kerja, stress ekonomi dll. Ini semua terakumulasi menjadi stress yang membutuhkan reduksi (pembebasan) dari  diri seseorang.  Beberapa orang masih mampu mengendalikannya dengan kompensasi pada kegiatan yang lebih bermanfaat, namun sebagian akan mereduksinya dengan cara perlahan dan tidak sadar masuk pada kegiatan yang destruktif semacam efek madat yang bukan menghentikan stress atau membebaskannya malah ketagihan dan setelah itu membentuk kecemasan baru yang lebih parah, hal yang lebih berbahaya jika seseorang telah memutuskan , “terlanjur”, jika ini yang terjadi maka orang akan berendam dalam stress yang berkepanjangan secara agama ia bermandikan dosa yang tiada henti.
Jika kita menghadapi orang yang telah terlanjur bermandikan dosa, tetaplah ia diakui sebagai keluarga kita yang perlu mendapat perhatian dan kasih sayang. Alih-alih menyalahkannya lebih baik mengoreksi diri kita seberapa banyak kontribusi kita sehingga salah satu keluarga kita terjerumus dalam jurang dosa. Jika kita menyalahkannya maka keluarga kita yang demikian itu kehilangan tempat kembali yang sangat diharapkan yaitu keluarga sendiri, padahal ia masih hidup itulah satu sumber daya yang ada padanya untuk memperbaiki keadaan, dan merencanakan hidup berubah kearah lebih baik di masa mendatang. Selanjutnya jangan  dibicarakan kepada sembarang orang, dan jangan diungkit sebagai alat pemukul  pada  suatu saat, karena itu sangat menyakitkan. Ingatlah setiap orang ingin dimaklumi apakah itu pantas atau tidak. Doronglah agar ia mau bertobat dan mengkompensasikan  dengan perilaku yang saleh , dorong agar ia dapat mengambil pelajaran dari kejadian itu.  Hal-hal yang membuatnya jadi kecewa pada diri kita, maafkanlah dan tetaplah bersyukur karena ia masih punya umur dan mau bertobat. Bukan hal yang mudah namun lakukanlah yang terbaik semoga Alloh menolong kita… “

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar