Sabtu, 06 Oktober 2012

Tawakkal


Tawakkal A’lalloh

Tawakkal di jelaskan dalam Hadits marfu’ dari Umar bin Khattab ra, yang diriwayatkan melalui jalur sanad Abdullah bin Hubairah, dari Abu Tamim Al-Jaisyani, dari Umar bin Khattab, dari Rasulullah SAW, diriwayatkan oleh :
• Imam Turmudzi dalam Sunan/ Jami’nya, Kitab Al-Zuhud An Rasulillah SAW, Bab Fi Attawakkal Alallahi, hadits nο 2344.
• Imam Ibnu Majah dalam sunnannya, Kitab Al-Zuhud, Bab Attawakkal Wal Yaqin, hadits nο 4164.
• Imam Ahmad bin Hambal dalam tiga tempat dalam musnadnya, yaitu pada hadits nο 205, 372 dan 375.

Makna Tawakkal Secara Umum

Hadits di atas menjelaskan tentang hakekat tawakal yang digambarkan oleh Rasulullah SAW dengan perumpamaan seekor burung. Dimana burung pergi (baca ; mencari karunia Allah) pada pagi hari dengan perut kosong karena lapar, namun di sore hari ia pulang dalam keadaan perut kenyang dan terisi penuh. Karena pada hakekatnya Allah SWT lah yang memberikan rizkinya sesuai dengan kebutuhannya.
Demikian juga manusia, sekiranya manusia benar-benar bertawakal kepada Allah SWT dengan mengamalkan hakekat tawakal yang sesungguhnya, tentulah dari aspek rizki, Allah SWT akan memberikan rizki padanya sebagaimana seekor burung yang berangkat pada pagi hari dengan perut kosong dan pulang pada sore hari dengan perut kenyang. Artinya insya Allah rizkinya akan Allah cukupi.
Alangkah panjang dan melelahkan perjalanan seorang manusia yang memimpikan gelar sarjana. Umumnya diperlukan waktu 6 tahun di SD, 3 tahun di SMP, 3 tahun di SMU, dan rata-rata 5 di perguruan tinggi.
Yang dijalani selama itu tidak lebih dari sebuah siklus: diajari-diuji-diajari-diuji-diajari-diuji. Demikian seterusnya.
Selama 17 tahun diperlukan untuk mencapai gelar sarjana. Itu lama yang normal. Bisa saja di tengah jalan melenceng dari rencana. Kuliah sambil bekerja. Atau kuliah sambil kawin dan beranak-pinak.
Bagaimana dengan manusia yang memimpikan masuk sorga?
1%
Semua orang memimpikan masuk sorga. Seabrek judul lagu tentang sorga dinyanyikan: “I Want Tο Gο Tο Heaven” Texas, “I Found Heaven” Take Thаt, “Heaven Iѕ Waiting” War & Peace, “I Wish Yου Heaven” Prince, ”Surga Di Telapak Kakimu” Gita Gutawa, ”Gita Sorga Bergema” Glenn Fredly, ”Pintu Sorga” Gigi. Bahkan Peterpan yang menghebohkan karena disinyalir salah satu anggotanya membuat video zina pun menyanyikan lagu “Bintang Di Surga”.
Tetapi tentu saja bukan menyanyikan lagu-lagu itu yang akan membawa ke sorga. Untuk bisa masuk sorga banyak kendala yang berlapis-lapis.
Kendala pertama adalah apakah Allah memberi hidayah bisa menetapi Islam agama yang haq?. Sebab berdasarkan firman Allah: Innad diina ’indalloohil islam – Sesungguhnya agama yang haq di sisi Alloh adalah Islam.
Barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima dan di akhirat akan menjadi orang yang rugi.
Kendala kedua adalah ternyata Islam itu sendiri sejak 14 abad yang lalu sudah pecah berkeping-keping. Bukan pecah 2 antar Sunni dan Syiah. Bukan pecah 4 sesuai jumlah Khalifah. Bukan pecah 7 sesuai jumlah lapis langit. Bukan pecah 10 sesuai jumlah Malaikat. Bukan pecah 25 sesuai jumlah Nabi. Pecahnya teungteuingeun banyak sekali. Pecahnya menjadi 73 golongan!
Sebagaimana sabda Nabi: Wa inna haadzihil millata sataftariqu ’alaa tsalaatsin wa sab’iina – sesungguhnya ini agama akan pecah menjadi 73 golongan.
Gawatnya, dari 73 golongan itu rasio antara benar:salah bukannya 50%:50% atau 25%:75% atau 10%:90% atau 5%:95%. Rasionya hanya 1%:99%!
Sebagaimana sabda Nabi lanjutan hadits diatas: tsintaani wa sab’uuna fin naar wa waahidatun fil jannah – 72 golongan masuk neraka dan 1 masuk sorga …
Lebih gawat lagi, sejauh ini tidak pernah ada ilmu yang dipublikasikan secara luas bagaimana cara menemukan yang 1% itu. Tidak ada mata kuliahnya. Bayangkan kalau ada, manusia pasti akan berbondong-bondong demi mendapatkan yang 1% itu.
Apa arti angka-angka itu? Artinya, mereka yang bisa menetapi yang 1% itu pastilah manusia-manusia yang dipilih Alloh untuk mendapatkan hidayah-Nya. Pasti.
Apakah ceritanya sampai disini? Apakah setelah menjadi ”gang οf 1%” otomatis dipastikan masuk sorga? Ternyata tidak sama sekali. Jalannya masih sangat panjang dan berliku.
Iman-Dicoba-Iman-Ditolong-Iman-Dicoba
Firman Alloh: Ahasibannaasu аn yutrokuu аn yaquuluu aamannaa wahum laa yuftanuun? – Apakah menyangka manusia akan dibiarkan setelah dia mengatakan iman dan mereka tidak dicoba?
Artinya, pada saat Allah mempertemukan orang itu dengan golongan 1% dan menyatakan iman kepada Alloh, saat itu juga Alloh mencoba kepada orang itu.
Untuk apa Alloh mencoba?
Falaya’lamannalloohulladzii shodaqu walaya’lamannal kaadzibiina – maka Alloh akan tahu siapa yang benar-benar imannya, dan siapa yang dusta.
Maka dimulailah siklus cobaan dan pertolongan terus menerus sampai ajal:
Siklus 1: IMAN-Dicoba-Ditolong-..…Dicoba-Iman-AJAL
Siklus 2: IMAN-Dicoba-Ditolong-..…Dicoba-Murtad-AJAL
Siklus 3: IMAN-Dicoba-Ditolong-..…Dicoba-Munafik-AJAL
Siklus 4: IMAN-Dicoba-Ditolong-..…Dicoba-Syirik-AJAL
Hanya Siklus 1 yang berujung ke husnul khotimah akhir yang baik yang bisa membawa ke sorga. Adapun Siklus 2, 3, 4 lainnya berujung ke suu-ul khotimah akhir yang buruk yang membawa ke neraka. Jadi perjuangan sampai hembusan nafas terakhir seorang manusia yang merindukan sorga adalah bagaimana supaya berhasil dengan Siklus 1.
Siap Dicoba …
Sudah disebutkan ayatnya tadi bahwa Alloh akan mencoba keimanan kita. Bentuk cobaannya adalah sebagaimana cobaan yang diberikan kepada orang-orang terdahulu yang mengharapkan masuk sorga. Massathumul ba’saa – menimpa kepada mereka bahaya, wad dlorro – dan kemelaratan, wa zulziluu – dan gonjang-ganjing.
Di ayat lain disebutkan: minal khoufi – dari ketakutan, wal juu’i – dan kelaparan, wa naqsin minal amwaal – dan kekurangan harta, wal anfusi – dan kekurangan diri, wats tsamarooti – dan kekurangan buah-buahan.
Itulah bentuk-bentuk cobaan Alloh untuk menguji keimanan mereka yang ingin masuk sorga.
Siap Dimusuhi …
Ada orang shalih yang menjadi pengikut 2 Nabi sekaligus, dimana pada saat Muhammad jadi Nabi, beliau adalah seorang pengikut kitab Injil yang masih asli, yang di dalamnya memuat tentang akan datangnya Nabi akhir zaman.
Ketika tanda-tanda kenabian nampak di Muhammad bin Abdillah, maka orang shalih tadi menemui Muhammad, dan mengetest dengan beberapa pertanyaan. Salah satu pertanyaannya adalah: mengapa kadang seorang anak mukanya seperti bapaknya, kadang seperti ibunya?
Tentu saja karena dibisiki Malaikat Jibril, maka dengan tepat Muhammad menjawabnya. Apa jawaban atas pertanyaan tadi? Supaya afdol, silahkan tanyakan ke muballigh-muballighot LDII, atau ulama lainnya terdekat.
Dan ketika Muhammad bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, orang shalih tadi bukannya bersuka-ria karena bertemu Nabi baru, melainkan justru menangis.
Mengapa?
Sebab walaupun Muhammad keturunan terhormat suku Quraisy, sangat dipercaya kaumnya karena kejujurannya sehingga disebut ’al amin’, dan kaya raya karena beristerikan seorang wanita terhormat Khadijah, tetapi justru berikut ini ucapan Waroqoh bin Naufal, orang shalih tadi:
Lam ya-ti rojulun qottun bimitsli maa ji-ta bihii illa udiya – Tidak akan datang sama sekali seorang laki-laki dengan membawa ajaranmu Muhammad, keuali pasti akan dimusuhi…
Benar saja. Tidak lama kemudian Muhammad, yang tadinya begitu dihormati, akhirnya justru diburu untuk dibunuh.
Apakah ucapan Waroqoh masih valid di zaman sekarang? Tentu saja. Siapa saja yang membawa agama yang haq, pasti disakiti, dimusuhi, dibenci, dicaci, dikucilkan, dimarjinalkan. Itu berita buruknya. Tetapi syukurlah, ada berita baiknya.
Siap Ditolong !!!
Di dalam Al-Quran Alloh berfirman haqqon ’alaina nashrul muminiina – haq atas Alloh menolong orang iman. Di ayat lain Alloh berfirman haqqon ‘alaina nunjil muminiina – haq atas Alloh untuk menyelamatkan orang iman.
Masih ingat nasihat yang sering disampaikan di majelis-majelis ta’lim bahwa ’cobaan awalnya pertolongan’?
Ya, memang demikian, karena siklus dicoba-ditolong-dicoba-ditolong dst dst itulah, maka setiap cobaan adalah awal dari pertolongan. Jutaan rintangan, milyaran kemenangan …
Kuatkan Menghadapi Cobaan
Banyak contohnya orang yang awalnya dianggap ilmu faham top-markotop dan berada di Ring-1, ternyata keimanannya ”jebol”, ujung-ujungnya suu-ul khotimah. Di zaman Nabi Musa, contoh yang ilmunya hebat adalah Bal’аm bin Bauro penyebab Musa tersesat puluhan tahun. Contoh yang di Ring-1 adalah panglimanya Musa sendiri penyebab turunnya penyakit tο’un. Mereka adalah para pengkhianat, dan tidak diberi kesempatan oleh Alloh untuk mentaubati pengkhianatannya.
Adakah cara untuk menghindari cobaan? Tidak ada, dan tidak bisa. Bolehkah mengharap cobaan? Tidak boleh, dan tidak perlu. Tanpa diminta, cobaan pasti datang.
Yang bisa dikerjakan adalah minta agar tidak dicoba dengan cobaan yang tidak kuat menanggungnya, sehingga terjerembab ke Siklus 2, 3 dan 4. Karena dicoba kemudian murtad, munafik, atau tidak karena Alloh.
Inilah dο’anya: robbanaa walaa tuhammilnaa maa laa tooqota lanaa bihi – ya Tuhanku janganlah  hamba dicoba dengan cobaan yang tidak kuat hamba menanggungnya …
Untuk lengkapnya dο’a, silahkan tanyakan ke muballigh-muballighot LDII, atau para ulama lainnya terdekat.
Berserah Diri Kepada Alloh
Dο уουr very best. Lakukan yang paling terbaik. Selanjutnya serahkan kepada Alloh. Jangan beri kesempatan untuk suudzon bersangka buruk kepada Alloh melainkan terus menerus jaga husnudzon bersangka baik kepada Alloh bahwa Siklus 1 sedang dan akan terus menerus bekerja. Bahwa terhadap cobaan sebesar apapun yang diberikan Alloh, pada saatnya Alloh sendiri yang akan menggantinya dengan pertolongan.
Wa man yatawakkal ’alalloohi fahuwa hasbuhu – barangsiapa yang berserah diri kepada Alloh maka Alloh akan mencukupi.
Dan bacalah ayat ini: hasbunalloohi wa ni’mal wakiil – maha suci Alloh Dzat yang paling nikmatnya untuk berserah diri kepada-Nya.
***
Berapa tahun setelah seorang anak ”lulus TK” harus menjalani siklus diajari-diuji-diajari-diuji sampai akhirnya mencapai gelar sarjana? Biasanya 17 tahun. Bisa lebih kalau kuliah sambil kerja atau kawin dan keburu beranak.
Berapa tahun setelah seorang manusia mengaku menjadi ”orang iman” harus menjalani siklus dicoba-ditolong-dicoba-ditolong sampai akhirnya bisa masuk sorga? Tidak ada batasan.
Ada perbedaan diantara keduanya. Setelah diwisuda belum tentu sang sarjana mendapat kemudahan mendapat kerja, dan hidup bahagia. Sedangkan setelah masuk sorga, pasti bahagia selama-lamanya.
Jika demikian, apa lagi yang dikuatirkan ketika ditimpakan oleh Alloh cobaan seberat apapun, fitnahan sehebat apapun selain melakukan yang terbaik untuk menghadapinya, lalu serahkan semuanya – tawakkal kepada Alloh?
Fa aina tadzhabuun?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar