Sabtu, 06 Oktober 2012

Kalau Tidak Sekarang, Kapan Lagi, Kalau Bukan Saya, Siapa lagi

Oleh : Syaiful HArdy
Akhir-akhir ini marak sekali di berbagai kota di Tanah Air dengan kegiatan workshop, colloquium, forum dan semacamnya. Sebuah tanda positif bahwa masyarakat terdidik kita mulai sadar akan pentingnya pengetahuan, ketrampilan yang tidak diajarkan di kampus.
Kampus yang kecil dan terbatas fasilitasnya memang tidak mengajarkan segalanya. Kampus hanyalah sebagian kecil  dari keseluruhan kehidupan kita yang tidak bakal mampu memenuhi semua kepentingan hidup ini.
Sayangnya, tidak semua mahasiswa menyadari akan hal ini. Sehingga, seolah-olah kampus mampu memberikan semua ‘kehidupan’ kepada mereka. Kampus adalah ‘masa depan’.
Kita berada di kampus rata-rata 16 tahun dalam umur kita. Enam tahun di sekolah dasar, 6 tahun di sekolah menengah, dan 4 tahun di perguruan tinggi. Kecuali yang sering tidak naik kelas!
Sesudah itu, kita bebas, melanglang buana. Kita di kampus biasanya hanya diajari teori. Sesuatu yang hanya bisa ditulis di buku dan dipelajari di laboratorium serta dijelaskan kembali dalam buku. Atau dijabarkan sewaktu ujian lisan.
Akan tetapi, hidup sebenarnya jauh lebih luas ketimbang yang bisa kita baca, tulis, apalagi waktu ujian tiba. Hidup jauh lebih kompleks dari pada yang sudah kita pelajari di bangku sekolah yang sangat terbatas jumlah jamnya ini. Apalagi jika dosennya sering absen. Maka betapa sedikit waktu kita belajar di kampus.
Maka dari itu, mereka yang jeli melihat kesempatan ini, dimanfaatkan sebagai bisnis. Bisnis semacam ini sah-sah saja. Toh yang mau datang menghadiri workshop atau colloquium sudah setuju, minimal dengan persyaratan pembayarannya. Setuju pula dengan materi yang bakal di bahas.
Ini terjadi, karena kampus, apalagi di dunia profesi keperawatan yang mengedepankan etika dalam profesinya, ternyata tidak banyak mengajarkan bagaimana etika duduk yang baik, etika bertamu, etika dalam berbicara yang sopan, etika berpamitan, etika berdiskusi, dan lain-lain etika lainnya. Itu masih masalah etika.
Belum lagi sebelum kita lulus! Gembar-gembor kampus yang mengatakan bahwa lulusan mereka adalah yang terbaik, lulusan mereka siap pakai, ternyata sewaktu menjelang interview, para lulusan ini tidak tahu bagaimana teknik menghadapi interview. Karena sewaktu kuliah, memang tidak diajarkan materi Teknik menghadapi Interview ini.
Jangankan interview, yang namanya membuat Curriculum Viate saja, banyak lulusan sarjana kita yang belum becus. Alias masih belang bonteng! Akibantnya, meskipun lulusan ini mestinya pandai dengan indeks prestasi tinggi, ternyata gagal mendapatkan kerjaan.
Ini adalah tanda, bahwa banyak sekali keterbatasan kampus dalam melengkapi kompetensi mahasiswanya hingga menjelang lulus.
Oleh sebab itu, saya sangat setuju sekali, jika di setiap kampus diberikan Materi Pembekalan kepada mereka yang semester lanjut. Materi ini berupa kuliah-kuliah yang diisi oleh dosen-dosen tamu yang berpengalaman di bidangnya. Tujuannya, selain menambah wawasan para mahasiswa sebelum lulus, akan melengkapi daya analisa mereka terhadap tantangan di masa depan, akan diapakan hari-harinya mendatang.
Dengan menghadirkan dosen-dosen seperti ini, mahasiswa semakin terbuka cara pandangnya, bahwa di luar kampus sana, ternyata masih begitu banyak mata kuliah lain yang harus mereka pelajari.
Sayangnya, banyak kampus-kampus kita yang ‘pelit’ akan program-program ini. Salah satu penyebabnya adalah ‘terbatasnya anggaran’. Biaya yang mahal jika mendatangkan dosen tamu. Harus menyediakan hotel. Dan lain sebagainya.
Memang, ada orang-orang yang ingin dihargai secara layak dan certified, seprofesional para dosen-dosen di kampus yang ingin bayarannya tidak telat dan sesuai, meski sering datang terlambat atau absen memberikan kuliah.
Akan tetapi, banyak pula orang-orang yang sangat concern dengan masa depan generasi muda kita. Yang tidak monomer-satukan Rupiah dalam hidupnya. Mereka sangat menyintai sharing atau berbagi pengalaman. Masa depan generasi muda yang terselamatkan ini baginya adalah sebuah prestasi.
Saya pernah ditolak. Saya sering pula merasa direndahkan. Itu hal biasa dalam kehidupan profesi. Hanya saja, kita tidak harus berhenti. Setidak-bolehnya anda berhenti berusaha untuk mendapatkan pekerjaan sekiranya anda menganggur.
Jika anda bekerja di luar negeri, belajarlah dengan sungguh-sungguh agar hasil belajar anda bisa, minimal, diceritakan kembali kepada mahasiswa, junior anda yang sedang belajar di Tanah Air.
Jika anda sukses dalam berbisnis, luangkan sebagian dari waktu anda untuk mahasiswa yang sedang berada di kampus. Jika anda sedang cuti kerja setelah enam bulan kerja di lepas pantai, segarkan pikiran anda dengan sharing dengan adik-adik yang haus akan cerita suka-duka bekerja di pulau seberang. Pendeknya, banyak yang bisa kita kerjakan dalam hidup ini.
Kendalanya, untuk melakukan semua itu, sebagian besar kita terlalu banyak pertimbangan. Macam-macamlah alasannya. Misalnya, tidak bakat jadi dosen, bukan tipe trainer, malas, tidak memiliki hobi menulis, sedikit waktu, sukar bicara, grogi ngomong di depan umum, dsb.
Semua itu, sekali lagi, lumrah dihadapi oleh seorang pemula. Semua orang merasakan apa yang anda rasakan, jika baru saja memulai. Semua pasti dirasakan kurang nyaman untuk pertama kalinya.
Sampai kapan ini akan berlangsung?
Jika kita biarkan berlarut-larut, jangan terkejut, jika suatu saat akan terjadi peledakan jumlah pengangguran orang-orang yang berpendidikan tinggi yang certified. Mengapa terjadi? Karena kita, pengelola kampus, kurang pandai memanfaatkan mereka yang sudah bekerja dan terampil untuk memberikan kuliah tamu. Yang kedua, kita yang sudah bekerja dan mapan ini, tidak lagi peduli dengan junior-junior yang sedang dahaga menantikan guyuran informasi actual tentang bagaimana sebenarnya dunia kerja sejati.
Maka dari itu, semuanya harus memulai dan harus dimulai. Dosen di kampus, mahasiswa dan pekerja, semunya harus bergerak! Dengan demikian, otomatis kita tidak terlalu memberatkan beban Pemerintah, lantaran lowongan jadi pegawai negeri sipil sangat tipis!
Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar