Sabtu, 06 Oktober 2012

Kebenaran Agama Bukan Rasio

Kebenaran Agama Bukanlah Rasio

Oleh : Yuyu Wahyudin Bani Atmadja
Ada kisah ironi orang jawa, Pa Bengkring seorang suami ,yang sangat sayang dan cinta pada istrinya. Suatu saat istrinya sedang hamil Kebenaran agama/rasio kebenaranmuda, sebagaimana pada umunya gejala hamil muda adalah ngidam (emesis),yang menurut mitos jika keinginan seorang wanita yang sedang mengidam “ gawan bayi” (pembawaan bayi) itu tidak dipenuhi maka kelak anaknya akan “ ngiler “ (mengeluarkan saliva yang berlebihan ). Istri Pa Bengkring saat itu mengambil kesempatan dengan permintaan yang tidak masuk akal, ia meminta “ kokring “ (kotoran manusia yang sudah kering), yang biasa dijumpai dipematang atau tepian parit yang biasa digunakan oleh orang untuk buang hajat. Karena terlalu cinta pada istri, Pa Bengkring mencarikan juga kotoran tersebut, karena ia tidak ingin kelak anaknya “ngiler” lebih dari itu karena ia ingin membuktikan betapa ia sangat sayang dan mencintai istrinya. Lama ia mencari akhirnya ia bisa mendapatkannya dan membawa pada istri tercinta. Sesampainya di rumah ia berikarikan barang pesanannya kokring yang dibungkus rapi, “dasar orang ngidam aneh-aneh, kok gituan mau dimakan”, pikir Pak Bengkring dalam hatinya. Tiba-tiba, istrinya malah meminta agar Pa Bengkring mencicipinya,” waduh gimana ini ”, namun karena Pa Bengkring ingin menunjukan bahwa ia sangat mencintainya permintaan nyeleneh inipun ia dipenuhinya. Melihat demikian, istrinya bertanya, “ bagaimana rasanya Mas ”, ia menjawab, “ wah sepet …”. Rupanya Pak Bengkring tak ingin menunjukan rasa yang sebenarnya. Itulah istri keterlauan dan suami yang keterlaluan…
Kisah diatas hanyalah sebuah kisah ironi bagi seorang suami yang terlalu mencintai atau terlalu mengikuti keinginan istrinya, sampai hal yang irasional juga ia lakukan. Ini juga merupakan ilustrasi kebenaran yang didasarkan hanya pada aspek estetika yang menurut istilah Soren Kierkegaard adalah, “ cara hidup tahap satu atau tahap estetika “, dimana senang tidak senang (lіkе dislike) yang menjadi ukuran kebenaran, jika sesuatu itu menyenangkan (lіkе) itu adalah benar jika sesuatu itu membosankan itu adalah tidak benar.
Ada orang yang hidup terus menerus pada tahap ini, bahayanya orang-orang yang hidup pada tahap estetika mudah mengalami kegelisahan, ketakutan dan rasa hampa kadang bodoh dan kekanakan (seperti Pak Bengkring).
Untuk mengatasinya orang harus memasuki tahap hidup ke dua yaitu tahap etika, disini kebenaran didasarkan pada rasio dan logika, ilmu pengetahuan dan standar yang disepakati. Hidup tahap kedua adalah hidup berlandaskan ilmu, ilmu ini bisa didapat melalui pendidikan formal maupun melalui media informasi lain intinya manusia harus tetap mendapatkan informasi yang benar berdasarkan kebenaran yang dapat dipertangungjawabkan secara ilmiah atau setidaknya berdasarkan pengalaman (empiris) yang terbukti benar.
Tahapan hidup ke tiga atau tertinggi yaitu tahap religius. Orang hidup berdasarkan standar religius memilih agama sebagai jalan hidupnya ia tidak mempertimbangkan kebenaran berdasarkan rasa atau rasio tapi ia mempertimbangkan kebenaran hanyalah berdasarkan iman. Kebenaran berdasarkan iman bentuk menerima perintah tulus, iklas, yakin dan semata karena cinta pada Tuhanya, apakah perintahnya itu menyenangkan, rasional atau malah sebaliknya, selama itu perintah Nabi dan Tuhannya. Sebagai yang dicontohkan oleh sahabat Umar Bin Khotob ketika hendak mencium hajar aswad ia berkata, “ hai batu hitam aku tahu engkau adalah batu, akau menciumnya karena Rasululloh melakukannya “. Pada contoh sahabat Umar tersebut kita melihat keimananan adalah melakukan perintah tanpa reserve. Ukuran religi untuk lіkе dislike mari kita rujuk ucapan sahabat Ali Ra, “ Cintailah orang yang kau cintai sekedarnya saja; siapa tahu – pada suatu hari kelak – ia akan berbalik menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sekadarnya saja; siapa tahu – pada suatu hari kelak – ia akan menjadi orang yang kaucintai.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar