Sabtu, 06 Oktober 2012

Sejarah Al-Qur’an

PENULISAN AL-QUR`AN
Ketika diturunkan satu atau beberapa ayat, Rasul saw langsung menyuruh para sahabat untuk menghafalkannya dan menuliskannya di hadapan beliau. Rasulullah mendiktekannya kepada para penulis wahyu. Para penulis wahyu menuliskannya ke dalam lembaran-lembaran yang terbuat dari kulit, daun, kaghid, tulang yang pipih, pelepah kurma, dan batu-batu tipis.
Mengenai lembaran-lembaran ini Allah SWT berfirman:
Rasuulun minallaaHi yatluu shuhufan muthaHHarah
Artinya:
(yaitu) seorang utusan Allah (yakni Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (al-Qur`аn) (QS. Al-Bayyinah [98]: 2)
Barangsiapa yang telah menulis dari aku selain al-Qur`аn hendaknya ia menghapusnya. Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur`аn dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. Al-Hijr [15]:9)
PENGUMPULAN AL-QUR`AN
Maka beliau berpikir tentang pengumpulan al-Qur`аn yang masih ada di lembaran-lembaran.
Zaid bin Tsabit ra berkata:
Dengan demikian akan hilanglah sebagian besar al-Qur`аn.”
Pengumpulan al-Qur`аn yang dilakukan Zaid bin Tsabit ini tidak berdasarkan hafalan para huffazh saja, melainkan dikumpulkan terlebih dahulu apa yang tertulis di hadapan Rasulullah saw. Lembaran-lembaran al-Qur`аn tersebut tidak diterima, kecuali setelah disaksikan dan dipaparkan di depan dua orang saksi yang menyaksikan bahwa lembaran ini merupakan lembaran yang ditulis di hadapan Rasulullah saw. Barulah mereka menghimpun lembaran yang disaksikan oleh Khuzaimah tersebut.
Lembaran-lembaran al-Qur`аn ini tetap terjaga bersama Abu Bakar selama hidupnya. PENYALINAN AL-QUR`AN
Di wilayah-wilayah yang baru dibebaskan, sahabat nabi yang bernama Hudzaifah bin al-Yaman terkejut melihat terjadi perbedaan dalam membaca al-Qur`аn. Hudzaifah melihat penduduk Syam membaca al-Qur`аn dengan bacaan Ubay bin Ka’ab. Mereka membacanya dengan sesuatu yang tidak pernah didengar oleh penduduk Irak. Hafshah pun mengirimkan lembaran-lembaran al-Qur`аn itu kepada Utsman.
Utsman bertanya, “Siapa yang orang yang biasa menulis?”
Dijawab, “Sаіd bin al-‘Ash.
Utsman kemudian berkata, “Suruhlah Sаіd untuk mendiktekan dan Zaid untuk menuliskan al-Qur`аn.”
Seperti diketahui, yang mendiktekannya adalah Sаіd bin al-Ash dan yang menuliskannya adalah Zaid bin Tsabit. Utsman lalu memerintahkan mereka agar kata itu ditulis dengan kata seperti dalam lembaran-lembaran al-Qur`аn yaitu dengan Ta` Mahtuhah. Demikianlah, mereka tidak berbeda pendapat selain dari perkara itu, karena mereka hanya menyalin tulisan yang sama dengan yang ada pada lembaran-lembaran al-Qur`аn, dan bukan berdasarkan pada ijtihad mereka.
Mushhaf inilah yang kemudian dikenal dengan nama Mushhaf Utsmani.
Utsman kemudian memerintahkan al-Qur`аn yang ditulis oleh sebagian kaum muslimin yang bertentangan dengan Mushhaf Utsmani yang mutawatir tersebut untuk dibakar.
Dengan demikian, al-Qur`аn yang sampai kepada kita sekarang adalah sama dengan yang telah dituliskan di hadapan Rasulullah saw. Allah SWT telah menjamin terjaganya al-Qur`аn. Tidak ada orang yang berusaha mengganti satu huruf saja dari al-Qur`аn kecuali hal itu akan terungkap.
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur`аn dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. Al-Hijr [15]: 9)
Oleh karena itu, tidak perlu kita ragu-ragu terhadap orisinalitas al-Qur`аn. Tak perlu kita terprovokasi tipu daya orang-orang liberal yang berupaya membuat kita ragu-ragu terhadap al-Qur`аn. Orang-orang liberal itu memang telah berguru kepada para orientalis yang mempelajari al-Qur`аn bukan untuk mengimaninya, bukan untuk menerapkan hukum-hukum yang ada di dalamnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar